REVITALISASI KEBUDAYAAN KASULTANAN KARATON PAJANG






Sekitar 600 meter ke arah selatan dari tugu lilin, memasuki Jl. Joko Tingkir, gang Benowo II Sonojiwan Rt5/ Rw22, Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo Jawa Tengah terdapat plakat yang menunjukkan lokasi petilasan Karaton Pajang yang berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya.
Sampai pada lokasi yang dituju terdapat gapura suro jiwan, dibangun pada tanggal 16 September 2008 dengan pintu kanan-kiri yang terbuat dari kayu, bagian atasnya terdapat papan menggantung di bawah atap bertuliskan Yayasan Kasultanan Karaton Pajang dan sebuah lambang. Pada sisi sebelah kanan terlihat gapura lain dengan sepasang arca Dwarapala besar pada bagian kanan dan kirinya, membelakangi pekarangan kosong menuju arah gapuro agung wringin lawang sebagai pintu masuk area yang di dalamnya terdapat pendopo, mushalla, belahan kayu bekas getek Joko Tingkir, taman sari dsb. Kemudian sisi sebelah pojok kanannya terdapat pula gapura sebagai jalur pintu keluar area.
Bergegas saya memasuki gapura suro jiwan terlebih dahulu dengan ditemani satu teman dari kampus, kemudian menemui seorang bapak yang kebetulan sedang bekerja ditemani seorang anak kecil yang tidak kami kenal sebelumnya. Lantas kami bertanya mengenai lokasi tempat petilasan dan peninggalan-peninggalan Kasultanan Karaton Pajang. Bapak tersebut mengarahkan kami menuju area bagian utara untuk menemui Bapak Seno penjaga musium Karaton Pajang. Pak Seno menyambut kami dengan ramah dan memperbolehkan memasuki museum.
Terdapat gambar serta berbagai macam keris dalam museum, sebagian peninggalan didapatkan secara sukarela dari orang-orang luar yang merasa bahwa benda itu merupakan sisa peninggalan Sultan Karaton Pajang. Sambil lalu kami berbincang-bincang dengan Pak Seno, pertengahan perbincangan kami terperangah oleh ucapan Pak Seno bahwa orang yang tadi kami temui adalah Sultan penerus Karaton Pajang, yang awalnya kami kira adalah masyarakat biasa, perkiraan itu karena kami melihat Sultan sedang bekerja membuat kurungan hewan dengan pakaian sederhana layaknya masyarakat biasa.
Setelah dari museum, Pak Seno mengantarkan kami pada suatu tempat yaitu Balai Agung Kasultanan Karaton Pajang, telah diresmikan pada tanggal 16 september 2010. Balai tersebut biasa digunakan untuk berbagai acara atau pertemuan Karaton Pajang.
Sebelum beranjak pulang kami berpamitan pada Pak Seno dan kembali menemui Sultan yang masih sedang bekerja dengan tujuan mengetahui lebih lanjut mengenai Karaton Pajang pada Sultan. Munkin karena waktu sudah sore dan pekerjaan Sultan yang belum selesai, kami diperkenankan untuk kembali lagi pada hari besoknya.
Keesokan harinya saya kembali lagi sendirian menemui Sultan hingga kemudian dipersilahkan masuk ke ruang tamu.
“Panggil saja bapak” ucap Sultan Suradi Joyonegoro penerus ke-V diawal pembicaraan.
Kasultanan Karaton Pajang saat ini merupakan pengangkatan kembali Karaton Pajang dulu, yang mana Karaton Pajang merupakan Kerajaan Islam pertama yang berada di daerah pedalaman. Meskipun saat ini tidak ada bukti fisik yang dapat membuktikan petilasan Karaton Pajang, namun batasan-batasan wilayahnya menjadi penguat sebagai bukti keberadaan Karaton Pajang.
Susunan Kasultanan Karaton Pajang yang ke-I adalah Joko Tingkir, diberi gelar oleh Sultan Trenggono bernama Adipati Hadiwijaya, memerintah pada tahun(1549-1582). Setelah beliau wafat diganti oleh menantunya yang paling tua, Sultan ke-II yaitu Aryo Pangiri dengan gelar Sultan Ngawantipuro(1583-1586). Setelah wafatnya beliau kemudian diganti Sultan Ke-III Pangeran Benowo anak Joko Tingkir sendiri setelah menjabat Sultan Pajang diberi gelar Sultan Prabuwijaya(1586-1587), kemudian setelah meninggal diganti oleh sultan ke-IV yaitu Pangeran Gagak Baning(1587-1601). Akhirnya setelah Sultan yang keempat kerajaan pajang dibiarkan sampai terbengkalai.
Setelah sekian lama terpendam karena masuknya belanda kerajaan pajang terbengkalai tidak ada yang mengurusi selama 423 tahun, selanjutnya muncul penerus yang ke-V yaitu Sultan Suradi Joyonegoro.
“Sultan yang sekarang ini, mengikuti adat jaman nenek moyang leluhur jaman dulu. Semua acara yang dulu pernah ada, kini sekarang diungkap kembali, namanya kita sebegai penerus yang paling tidak kita harus melakukan jaman joko tingkir. Lantas setelah sekian ratus tahun, kita kan sekarang jamannya jaman modern, nah kita ditambahi sedikit-sedikit ngikuti jaman” lanjutnya memaparkan.
Grebeg Jumenengan ndalem Sultan Pajang(ulang tahun waktu dinobatkannya Sultan Pajang yang sekarang), Grebeg napak tilas getek Joko Tingkir, Grebeg larung sesaji di pantai selatan, Grebeg 1 sura, Grebeg syawal, ziarah ke makam leluhur, Wiyosan ndalem karaton Pajang/ Sultan Pajang(memperingati hari lahir Sultan Pajang, dengan dibikin selametan untuk dimakan dan doa bersama serta membahas kemajuan karaton Pajang). Kebudayaan tersebut merupakan budaya yang saat ini diangkat kembali oleh Karaton Pajang serta disesuaikan dengan keadaan masyarakat dan jaman.
Oleh. Razuli

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW FILM SPOTLIGHT

RESENSI BUKU KUMPULAN ESAI “REPUBLIK KEN AROK”

PORSI MBENTOYONG BIKIN KENYANG